Friday, September 30, 2011

Komunikasi komentar

Finally … tulisan perdananya diterbitkan. Upayanya  selama ini tak sia-sia. Tersirat jelas diraut wajahnya kepuasan  dalam menikmati kesuksesannya. Mungkin bagi orang lain, prestasi itu biasa-biasa saja, namu tidak baginya.

Menulis  tentulah bukan suatu perkara mudah. Setidaknya itu yang dia  alami dan rasakan. Selama ini Membaca saja kadang tak pernah tuntas untuk beberapa halaman.  Sebelum akhirnya dinyatakan layak terbit oleh editor, dalam proses penulisan ini  banyak literature dibaca nya berulang kali  sebagai bahan perbandingan, menulis ulang, merevisi serta menyempurnakannya. Ia   juga mesti bolak-balik konsultasi dengan kawan yang telah matang pengetahuannya dalam soal tulis menulis.

Ditanyai tentang pandangan orang lain atas keberhasilan dimuatnya tulisan yang dibuat, ia dengan gaya sederhananya  berucap “  Seperti biasalah,, muncul koment setelah majalah  ini terbit. Isi komennya beragam; fotonya bagus,  atau  isi tulisannya mantap., minta dipinjamkan rujukan referensi yang saya kutip dalam tulisan. Ada banyaklah , namun esensi isi kemnetar ada yang menambah motivasi untuk terus meningkatkan  kemampuan menulis, ada juga yang secara tersembunyi  menyampaikan kok bisa tulisan yang kaya gituan diterima editor..

Penolakan, penerimaan ataupun no koment kadang tanpa disadari memicu sikap dan tanggapan balik. Hukum aksi reaksi  terimpelementasi. Dalam mata pelajaran ilmu,  kuantitas sebuah aksi bisa dikalkulasi. Berbeda halnya dengan aksi reaksi  perasaan. Terkadang output reaksi melebihi aksi  yang diterima sehingga tidak terjadi keseimbangan.

Terkait dengan komunikasi dan responnya dan dalam kaitannya dengan aksi reaksi, ada dua hal pasti yakni penerimaan dan penolakan. Komentar atau pandangan yang didengarkan bisa saja diterima karena bermakna sebagaimana yang diharapkan. Isi komentar ini  terurai dalam kata-kata yang kita harap dengarkan sebelum terucap dari orang lain. Lain halnya penolakan, kalimat yang didengarkan benar-benar kontra dengan yang kita idamkan dan bayangkan sebelumnya.

Dalam konteks penolakan, terkadang kita tidak siap sehingga memunculkan naluri melawan . Nuansa komunikasi berubah menjadi pedebatan sengit. Tanpa disadari seluruh gerak tubuh pun ikut menguatkan penolakan atas umpan balik dalam berkomunikasi. Penolakan melalui ucapan misalnya, mengucapkan kata yang langsung ataupun tidak langsung menjatuhkan lawan bicara, membidik dengan melebih-lebihkan sisi lemah lawan bicara. Bahasa  tubuh penolakan antara lain, senyum sinis,  menunjuk nunjuk lawan bicara.

Kadang dalam kondisi perdebatan ini , sikap diam dan tersenyum tulus serta menghargai sisi perbedaan pendapat ataupun ucapan maaf sekalipun  menjadi hal yang susah didapat.. akan lebih parah lagi bila sikap yang kita pilih adalah mundur selangkah untuk mengumpulkan segala komentar negative guna diungkapkan pada momen kedepannya …  semoga kita selalu  bisa lebih berkomunikasi secara assertif dalam setip kesempatan.

No comments:

Post a Comment

Please leave acomment.
I`ll Reply it soon

Please leave comment. I`ll Reply it soon

Subscribe via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner