Tuesday, April 14, 2015

MENJADI MAHASISWA MAGISTER MANAJEMEN


It depends on the personals motive on how far you can go and how high you can reach. Life must go on and nothing is easy. It is the way you see matter that put the value in one’s mind.
 Keputusan untuk mengikuti program studi pasca sarjana bukanlah keputusan zero investment. Ini tak dapat dipungkiri mengingat pendidikan itu biayanya tidak murah; biaya bukulah, biaya cetaklah, biaya infromasilah, biaya lainnya. Hmm No free lunch..
Well untuk beberapa pihak boleh jadi walau dengan mengeluarkan biaya, tetap saja itu masuk kategori zero investment alias tidak ngaruh pada cashflownya. What a lucky person!
Disamping itu, konsekuensi lainnya yakni ...
pengorbanan non financial. Benar apa kata salah satu prof kami  bahwa saat berada didalam kelas menerima materi yang minta ampun complicated, maka itu adalah sebuah pengorbanan.
Wujud pengorbanan yang paling basic yakni Zona nyaman telah ditinggalkan karena pada saat bersamaan sebenarnya waktu bisa diisi dengan relax time; sesuatu yang biasa dikerjakan sebelum memutuskan untuk bergabung dalam program pasca sarjana. This sacrifice type is on higher level for friend who have to make long trip weekly just for attending the class; from palopo, pare-pare, Jakarta to Makassar. That’s wonderful spirited guys. You deserve two thumbs.
Ada lelucon menarik namun cukup mengusik dari salah satu prof lainnya, bahwa setidaknya setelah bergabung dengan  program pasca sarjana telah dapat gelar baru yang disebut Ta`wwa. Mahasiswa MM Ta`wwa ;
Lebih mengusik lagi yang prof lainnya ceritakan bahwa pada beberapa kejadian, mahasiswa pasca sarjana pada angkatan sebelumnya harus di drop out. Dalam bahasa jenaka diceritakan bahwa yang bersangkutan  mendapatkan selembar surat keterangan bertuliskan HAMPIR BERGELAR MASTER.

No comments:

Post a Comment

Please leave acomment.
I`ll Reply it soon

Please leave comment. I`ll Reply it soon

Subscribe via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner